
Tuhan, sejauh ini cintaku cuma cinta monyet, senyum-senyum sendiri memandangi si dia punya potret, tetapi tak lama kemudian ia pun ku coret, cinta monyet memang tidak awet.
Kini..akupun memohon padaMu Tuhan, tolong supaya cintaku menjadi dewasa sungguhan, bukan lagi senang-senang berpacaran, melainkan mempertimbangkan teman hidup masa depan.
Ukuran bukan lagi wajah yang rupawan atau rayuan yang menawan, melainkan apakah dia punya kepribadian dan bisa cocok seumur hidup sebagai pasangan. Belajar memasuki cinta dewasa memang susah, harus bisa tidak menang sendiri dan berat sebelah, bukan lari dari, melainkan belajar memecahkan masalah, dan mau minta maaf kalau bersalah.
Cinta dewasa berarti jujur terhadap dunia nyata, masing-masing menampilkan diri tidak pura-pura, menyimak sifat baik dan sifat buruk yang ada, lalu menilai apakah tahan bersama dia seterusnya.
Aku harus belajar melihat dua puluh tahun ke depan, ketika yang aku perlu bukan lagi pacar yang kasmaran, melainkan dua insan berrumah tangga yang setiawan, berjiwa tanggung jawab, pengorbanan dan pengabdian.
Cinta dewasa menuntut aku mawas diri, apakah kualitas kepribadian itu ada pada diri sendiri, apakah aku mampu memberanikan diri, bukan cuma minta dilayani melainkan mau melayani.
Cinta monyet mudah, namun cinta dewasa susah, karena itu aku gelisah. Tolonglah aku mempercayakan diri dan berpasrah bahwa Tuhan besertaku bertumbuh ke masa cerah.
Dampingilah aku bertumbuh ke kedewasaan, matangkan diriku untuk berperilaku kemitraan, tolong aku nanti membuat pilihan.
Aku belum tahu siapa jodohku untuk berpasangan, tetapi ku percaya bahwa dia sudah Kau tentukan, namun ia masih sedang Kau siapkan, Kau matangkan dan Kau dewasakan.
Sebab itu, pada pengaturanMu kupercayakan diri, Engkau punya maksud indah dengan masa depan setiap pribadi, sehingga pergumulan hidup bukan kami hadapi seorang diri, melainkan bersama Engkau, Tuhan, teman hidup sejati.
-: Sarikata.com :- : Fithria Q
Posted at 07:59 pm by jajakasunda
Permalink